Pada suatu hari minggu seperti biasa saya paling suka leyeh-leyeh sambil baca kompas minggu dan tentu saja langsung nyari artikel Parodinya Mas Samuel Mulia –salah satu penulis favorit saya- yang berjudul VIP, very important people, saya langsung inget percakapan dengan orang –yg jg penting dalam hidup saya- ttg “jenis“orang seperti ini
Apa sih PENTING itu? VIP itu? Socialite itu?
Dalam kamus bahasa Indonesia yg pernah saya baca , penting diartikan sebagai : amat perlu, amat utama, sangat berharga sangat berguna, genting keadaannya. Sedangkan utk VIP kan kita udah tau kalo itu kepanjangan dari Very Important People, sedangkan Socialite saya ngga nemu di kamus tapi mungkin artinya kurang lebih orang-orang yg menjadi pemanis-pemanis dalam dunia pergaulan hehehe…kaum2 hedonis, orang2 kaya, anak konglomerat..orang yang penting lah pokoknya…
Yang menjadi menarik ini adalah perilaku orang2 penting ngga penting ini, teman saya bercerita kalo ada seorang petinggi sebuah bank yang lagaknya menjadi sok penting, padahal sebenernya dia emang penting [lha wong dia seorang pejabat kan?].
Kenapa menjadi sok penting? Karena konon kabarnya orang ini selalu ingin dipatuhi segala titahnya di lingkungan sosialnya not to mention in his office off course. Akhirnya orang2 yang seharusnya dianggap teman pun harus selalu manut dengan ucapan dan perintahnya yang kadang mungkin tidak dapat diterima begitu saja oleh teman2nya.
Saya sendiri pernah merasa penting banget, contohnya saja dulu saya pernah menjadi sekretaris sebelum di tempat saya sekarang, ceritanya karna saya sekertaris Regional maka pekerjaan saya biasanya menuntut untuk mengarrange acara Regional di hotel2 berbintang, karena saya menjadi klien hotel berbintang itu maka saya tentunya mendapatkan pelayanan prima dong, baik itu selama acara berlangsung ataupun jika saya datang ke hotel untuk sekedar makan atau menikmati musik di kafenya, terkadang saya mendapatkan privilege dengan disediakan kursi khusus atau mendapatkan compliment makanan/minuman dari mereka. Tentu saja saya yang “biasa-biasa” saja ini langsung ke GR an dan merasa udah sangat penting hehehehe.
Atau cerita lain tentang seorang teman yang terkadang merasa lebih tinggi kedudukannya dari seorang supir kantor misalnya sehingga dia merasa ngga pantes “berteman” dgn supir tsb hanya karena merasa kedudukannya lebih “bagus di kantor”, padahal sebenarnya masalah siapa yg lebih penting juga ngga jelas..kabur..abu-abu.. kenapa gitu? Ya kan karena bisa aja sebenernya si supir itu yang lebih penting karena dialah yang kita butuhkan untuk mengantar kemana-mana untuk ngurus kerjaan..
Nah bingung kan?
Seorang yang penting sepatutnyalah memang bisa merefleksikan hal-hal yang telah difenisikan pada kamus bahasa Indonesia yang saya baca [yg bukan ditulis oleh JS Badudu hehe] yaitu yang saya sebutkan di atas . Pejabat bank itu seharusnya bisa menempatkan “penting ngga pentingnya” dalam bersosialisasi shg dengan begitu teman2nya tetap respek terhadapnya. Atau saya yang seharusnya ngga ke GR an merasa penting karna sebenernya fasilitas yg diberikan hotel langganan kantor saya itu hanya sbg “basa-basi” supaya kantor saya bisa loyal dan tetap memakai jasa mereka yang kebetulan PICnya adalah saya, padahal saya mungkin cuma “babu”..orang yg disuruh2 oleh atasan utk ngatur2 tamu jika ada perhelatan hehehe [kasian deh gw]. Dan teman saya yang seharusnya ngga merasa lebih penting dari pak supir yang udah rela mengantar dan menunggu kami jika ada urusan di luar kantor.
Well, masalah merasa penting ngga penting ini memang terpulang kembali kepada pribadi seseorang, jika mau sok bijak saya akan bilang “ kenapa harus merasa penting? Toh di mata Tuhan kita semua sama manusia yang tidak berdaya apa-apa di hadapan-Nya”.
Tulisan ini bukan untuk menggurui or judge people by their appearance, masalah penting ngga penting ini mungkin akan berbeda jika dilihat dari kacamata orang lain, ini hanya sekedar untuk menuangkan apa yang saya pikir “penting” dan saya rasa di sekeliling saya, hal yang saya lihat dari kacamata saya..
Thanks to Samuel Mulia, penulis yang selalu memberi inspirasi dalam setiap tulisan yang dia bilang “ngga penting” [tapi dia tetap penting bagi saya, buktinya saya selalu ngga sabar menunggu hari minggu untuk baca tulisannya] dan satu lagi buat orang2 yang “penting “ dalam hidup saya, karena dari obrolan2 “ngga penting” bisa menginspirasi saya untuk menulis, siapapun itu…
Like to Read, Trying to Write Something, Living in Makassar..
Well, nothing much to tell..
Happy reading.. :)


